PERUBAHAN
DAN KESINAMBUNGAN DALAM KEHIDUPAN BANGSA INDONESIA
MASA
PERGERAKAN NASIONAL SAMPAI REFORMASI
1.
Setiap
agama yang ada di Indonesia (baca:Agama Hindu, Buddha, dan Islam) adalah
berasal dari negara lain.
a.
Jelaskanlah
berdasarkan bukti historis, bahwa sebelum kedatangan agama-agama tersebut
Indonesia sudah mengenal sistem kepercayaan.
Sebelum datangnya agama-agama
seperti sekarang ini orang Indonesia pada masa praaksara telah mengenal sistem
kepercayaan. Orang-orang Pada masa prasejarah sudah menyadari kalau ada kekuatan lain di luar mereka. Oleh
karena itu, mereka berusaha mendekati
kekuatan itu. Mereka mengadakan berbagai upacara, seperti pemujaan, pemberian
sesaji, atau upacara ritual lainnya.
sistem kepercayaan yang mereka yakini adalah animisme, dinamisme dan totemisme.
1) Animisme
Manusia purba
percaya setiap orang yang meninggal akan menjadi roh yang kemudian berpengaruh
pada kehidupan di dunia. Pada kepercayaan animisme, manusia purba percaya
terhadap roh yang mendiami semua benda. Mereka juga memercayai adanya roh di
luar roh manusia yang dapat berbuat jahat dan berbuat baik. Roh-roh itu mendiami
semua benda, misalnya danau, pohon, dan sebagainya.
2) Dinamisme
Dinamisme
adalah kepercayaan bahwa segala sesuatu punya tenaga atau kekuatan yang dapat
memengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia. Mereka percaya terhadap
kekuatan gaib dan kekuatan itu dapat menolong mereka. Kekuatan gaib itu
terdapat di dalam benda-benda seperti keris, patung, gunung, pohon besar, dll.
Untuk mendapatkan pertolongan kekuatan gaib tersebut, mereka melakukan upacara
pemberian sesaji, atau ritual lainnya.
3) Totemisme
Totemisme
adalah kepercayaan bahwa hewan tertentu dianggap suci dan dipuja karena
memiliki kekuatan supranatural. Hewan yang dianggap suci misalnya sapi, ular,
dan harimau.
Bukti adanya sistem kepercayaan
tersebut adalah adanya menhir dan dolmen.
Selain itu dibeberapa wilayah telah
memiliki agama yang dianut leluhurnya, agama tersebut adalah :
a.
Sunda
Wiwitan
Sunda
Wiwitan adalah Agama yang telah dianut oleh sekelompok masyarakat Sunda sejak
ratusan tahun yang lalu. Bahkan sebelum Hindu dan Budha masuk ke negeri ini,
ajaran Sunda Wiwitan sudah ada dan berkembang di masyarakat. Di era modern
seperti sekarang, masyarakat Sunda Wiwitan bisa ditemukan di kawasan Kanekes,
Banten; Kampung Naga, Cirebon; dan Cigugur, Kuningan.
Sunda
Wiwitan memuja roh nenek moyang sebagai entitas yang ditinggikan. Selain memuja
nenek moyang, Sunda Wiwitan juga memiliki satu Tuhan yang kerap disebut dengan Sang Hyang Kersa. Tuhan dalam
dalam ajaran Sunda Wiwitan tetaplah satu, dalam perkembangannya, beberapa
tradisi dari Sunda Wiwitan juga terpengaruh unsur Hindu dan Islam.
b.
Kejawen
Kejawen
adalah sebuah kepercayaan yang telah dianut oleh masyarakat Jawa sejak lama.
Mereka tetap menjalankan Agama primer yang dianut (agama utama), menjalankan
perintah dan larangannya, namun tetap melaksanakan lelaku sebagai seorang
pribumi Jawa yang sangat taat dengan leluhur. Penganut Kejawen selalu
mengatakan bahwa kepercayaan ini bukanlah Agama meski memiliki beberapa lelaku
yang menjadi ciri khas sebuah Agama.
Kepercayaan
kejawen memiliki beberapa misi dalam ajarannya. Mereka harus melaksanakan empat
hal wajib saat hidup. Seorang manusia Jawa harus bisa menjadi rahmat bagi
dirinya sendirinya. Lalu mereka juga harus bisa menjadi rahmat bagi keluarga.
Dua terakhir dari misi Kejawen adalah menjadikan manusia sebagai rahmat bagi
sesama dan juga alam semesta.
c.
Marapu
Marapu
adalah sebuah Agama asli Pulau Sumba yang konon telah ada sejak ratusan tahun
yang lalu. Orang dengan agama ini melakukan pemujaan kepada nenek moyang yang
telah pergi dari dunia. Orang dengan Agama Marau percaya bahwa setelah kematian
datang, mereka akan pergi ke sebuah tempat yang sangat indah bernama Prai
Marapu. Tempat yang konon sangat indah itu bisa disamakan seperti surga di
Agama seperti Islam dan Kristen.
Kompleksitas
Agama Marapu yang telah ada sejak ratusan tahun lalu bisa dilihat dari
banyaknya upacara keagamaan. Hal-hal yang berkaitan dengan daur hidup seperti
kematian, kelahiran, dan pernikahan akan diwujudkan menjadi pesta besar. Selain
masalah tradisi, orang dengan Agama ini juga mengenal beberapa makhluk gaib,
kekuatan gaib, dan mengeramatkan beberapa benda.
d.
Ugamo Malim
Ugamo Malim adalah Agama
asli dari Suku Batak di kawasan Toba. Jauh sebelum Islam, Kristen, dan Katolik
dipeluk oleh masyarakat setempat. Agama ini memiliki kesamaan dengan Agama Kuno
Yahudi yang terletak jauh berseberang samudera. Saat ini, Ugamo Malim telah
dipeluk oleh 35 generasi suku Batak. Artinya, Agama ini telah ada sejak 800
tahun yang lalu.
Dalam Ugamo Malim dikenal
Tuhan YME dengan julukan Debata Mula
Jadi Na Bolon. Tuhan dalam kepercayaan Ugamo Malim menciptakan alam
semesta, bumi, manusia dan segala hal yang ada di sekitarnya.
e.
Kaharingan
Kaharingan adalah salah
satu Agama asli Indonesia yang berasal dari Kalimantan. Suku Dayak banyak
menganut Agama ini sejak lama sebelum Agama-agama besar diakui oleh pemerintah.
Kaharingan percaya akan adanya entitas yang sering disebut dengan Ranying Hatalla. Entitas itu bisa
disamakan dengan Tuan Yang Maha Esa.
Agama Kaharingan dimasukkan
ke dalam Agama Hindu pada tahun 1980. Kemiripan tradisi dan lelakunya dirasa
mirip oleh pemerintah. Meski masuk dalam cakupan Agama Hindu, Kaharingan masih
memiliki tradisi asli yang tak bisa disamakan dengan Agama lainnya. Misal
mereka punya tempat ibadah yang dinamai dengan Balai Basarah.
b.
Jelaskanlah
berdasarkan bukti historis, bahwa agama tersebut di atas adalah Hindu
Indonesia, Buddha Indonesia, dan Islam Indonesia.
a.
Hindu Indonesia
Kebudayaan dan agama Hindu tiba di Indonesia pada abad pertama Masehi,
bersamaan waktunya dengan kedatangan agama Buddha, yang kemudian
menghasilkan sejumlah kerajaan Hindu-Buddha seperti Kutai, Mataram dan
Majapahit. Candi Prambanan adalah kuil Hindu yang dibangun semasa kerajaan
Majapahit, semasa dinasti Sanjaya. Kerajaan ini hidup hingga abad ke 16 M,
ketika kerajaan Islam mulai berkembang. Periode ini, dikenal sebagai periode
Hindu-Indonesia, bertahan selama 16 abad penuh.
Hindu di Indonesia berbeda dengan Hindu lainnya di dunia. Sebagai
contoh, Hindu di Indonesia, secara formal ditunjuk sebagai agama Hindu Dharma,
tidak pernah menerapkan sistem kasta. Contoh lain adalah, bahwa Epos keagamaan
Hindu Mahabharata (Pertempuran Besar Keturunan Bharata) dan Ramayana
(Perjalanan Rama), menjadi tradisi penting para pengikut Hindu di Indonesia,
yang dinyatakan dalam bentuk wayang dan pertunjukan tari. Aliran Hindu juga
telah terbentuk dengan cara yang berbeda di daerah pulau Jawa, yang jadilah
lebih dipengaruhi oleh versi Islam mereka sendiri, yang dikenal sebagai Islam
Abangan atau Islam Kejawen.
b.
Agama Budha Indonesia
Agama Buddha di Indonesia bukan hanya mengimpor rupang Buddha, tapi juga
impor aliran. Theravada impor dari Thailand dan Myanmar, Mahayana
(Tiongkok-Taiwan), Vajrayana (Tibet-Nepal), Tzu Chi (Taiwan), Plum Village
(Perancis-Vietnam), Chan (Taiwan), hingga aliran-aliran yang ajarannya berbeda
dari aliran mainstream seperti Nichiren (Jepang), Maitreya (Taiwan), dan yang
terbaru Dhammakaya (Thailand).
Indonesia beda dengan Amerika atau negara Barat lainnya yang tidak punya
sejarah agama Buddha di masa lalu, sehingga mereka harus
mengimpor agama Buddha dari Asia. Sedangkan agama Buddha Indonesia punya
sejarah yang sangat panjang dan pernah punya segalanya.
Agama Buddha pernah berjaya di Nusantara pada masa Sriwijaya dan Majapahit.
Dan kita selalu membanggakannya. Kita selalu membanggakannya, tapi tak pernah
mau meneruskannya. Bukannya meneruskan agama Buddha Nusantara yang sudah
terbukti pernah berjaya, kita justru ramai-ramai impor agama Buddha dari negara
lain yang belum tentu cocok dengan karakter orang Indonesia.
Agama Buddha Nusantara yang dulu pernah berkembang sangat kental akan nilai
seni dan budaya. Ini bisa dilihat dari beragam artefak peninggalannya, mulai
dari candi, rupang, pahat, arsitektur, tata kota, kidung, hingga sastra. Bahkan
semboyan resmi negara kita, Bhinneka Tunggal Ika, diambil dari buku Sutasoma
karya pujangga Buddhis besar kala itu, Mpu Tantular. Bahkan sistem etika, tata
sosial dan budaya bangsa kita yang saat ini berlaku pun masih sangat dominan
dipengaruhi budaya Hindu-Buddha.
c.
Islam Indonesia atau Islam Nusantara
Islam Nusantara atau model Islam Indonesia adalah suatu
wujud empiris Islam yang dikembangkan di Nusantara setidaknya sejak abad ke-16, sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi,
indigenisasi, interpretasi, dan vernakularisasi terhadap ajaran dan nilai-nilai
Islam yang universal, yang sesuai dengan realitas sosio-kultural Indonesia. Istilah ini
secara perdana resmi diperkenalkan dan digalakkan oleh organisasi Islam Nahdlatul Ulama pada 2015, sebagai bentuk penafsiran alternatif masyarakat Islam global
yang selama ini selalu didominasi perspektif Arab dan Timur Tengah.
Islam Nusantara didefinisikan sebagai penafsiran Islam yang
mempertimbangkan budaya dan adat istiadat lokal di Indonesia dalam merumuskan fikihnya Pada Juni 2015, Presiden Joko Widodo telah secara terbuka memberikan dukungan kepada Islam Nusantara, yang
merupakan bentuk Islam yang moderat dan dianggap cocok dengan nilai budaya
Indonesia
Konsep
Islam Nusantara sebenarnya ialah mensinergikan ajaran Islam dengan adat
istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Indonesia. Menurut Said Aqil,
Islam di Indonesia tidak harus seperti Islam di Arab atau Timur Tengah,
yang menerapkan penggunaan gamis ataupun cadar. Islam Nusantara, tegasnya,
adalah Islam yang khas ala Indonesia.
No comments:
Post a Comment