Monday, February 11, 2019


PERUBAHAN DAN KESINAMBUNGAN DALAM KEHIDUPAN BANGSA INDONESIA
MASA PERGERAKAN NASIONAL SAMPAI REFORMASI

1.      Setiap agama yang ada di Indonesia (baca:Agama Hindu, Buddha, dan Islam) adalah berasal dari negara lain.
a.      Jelaskanlah berdasarkan bukti historis, bahwa sebelum kedatangan agama-agama tersebut Indonesia sudah mengenal sistem kepercayaan.
Sebelum datangnya agama-agama seperti sekarang ini orang Indonesia pada masa praaksara telah mengenal sistem kepercayaan. Orang-orang Pada masa prasejarah sudah menyadari kalau ada kekuatan lain di luar mereka. Oleh karena itu, mereka berusaha mendekati kekuatan itu. Mereka mengadakan berbagai upacara, seperti pemujaan, pemberian sesaji, atau upacara ritual lainnya. sistem kepercayaan yang mereka yakini adalah animisme, dinamisme dan totemisme.
1)      Animisme
Manusia purba percaya setiap orang yang meninggal akan menjadi roh yang kemudian berpengaruh pada kehidupan di dunia. Pada kepercayaan animisme, manusia purba percaya terhadap roh yang mendiami semua benda. Mereka juga memercayai adanya roh di luar roh manusia yang dapat berbuat jahat dan berbuat baik. Roh-roh itu mendiami semua benda, misalnya danau, pohon, dan sebagainya.
2)      Dinamisme
Dinamisme adalah kepercayaan bahwa segala sesuatu punya tenaga atau kekuatan yang dapat memengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia. Mereka percaya terhadap kekuatan gaib dan kekuatan itu dapat menolong mereka. Kekuatan gaib itu terdapat di dalam benda-benda seperti keris, patung, gunung, pohon besar, dll. Untuk mendapatkan pertolongan kekuatan gaib tersebut, mereka melakukan upacara pemberian sesaji, atau ritual lainnya.
3)      Totemisme
Totemisme adalah kepercayaan bahwa hewan tertentu dianggap suci dan dipuja karena memiliki kekuatan supranatural. Hewan yang dianggap suci misalnya sapi, ular, dan harimau.
Bukti adanya sistem kepercayaan tersebut adalah adanya menhir dan dolmen.
Selain itu dibeberapa wilayah telah memiliki agama yang dianut leluhurnya, agama tersebut adalah :
a.      Sunda Wiwitan
Sunda Wiwitan adalah Agama yang telah dianut oleh sekelompok masyarakat Sunda sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan sebelum Hindu dan Budha masuk ke negeri ini, ajaran Sunda Wiwitan sudah ada dan berkembang di masyarakat. Di era modern seperti sekarang, masyarakat Sunda Wiwitan bisa ditemukan di kawasan Kanekes, Banten; Kampung Naga, Cirebon; dan Cigugur, Kuningan.
Sunda Wiwitan memuja roh nenek moyang sebagai entitas yang ditinggikan. Selain memuja nenek moyang, Sunda Wiwitan juga memiliki satu Tuhan yang kerap disebut dengan Sang Hyang Kersa. Tuhan dalam dalam ajaran Sunda Wiwitan tetaplah satu, dalam perkembangannya, beberapa tradisi dari Sunda Wiwitan juga terpengaruh unsur Hindu dan Islam.
b.      Kejawen
Kejawen adalah sebuah kepercayaan yang telah dianut oleh masyarakat Jawa sejak lama. Mereka tetap menjalankan Agama primer yang dianut (agama utama), menjalankan perintah dan larangannya, namun tetap melaksanakan lelaku sebagai seorang pribumi Jawa yang sangat taat dengan leluhur. Penganut Kejawen selalu mengatakan bahwa kepercayaan ini bukanlah Agama meski memiliki beberapa lelaku yang menjadi ciri khas sebuah Agama.
Kepercayaan kejawen memiliki beberapa misi dalam ajarannya. Mereka harus melaksanakan empat hal wajib saat hidup. Seorang manusia Jawa harus bisa menjadi rahmat bagi dirinya sendirinya. Lalu mereka juga harus bisa menjadi rahmat bagi keluarga. Dua terakhir dari misi Kejawen adalah menjadikan manusia sebagai rahmat bagi sesama dan juga alam semesta.
c.       Marapu
Marapu adalah sebuah Agama asli Pulau Sumba yang konon telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Orang dengan agama ini melakukan pemujaan kepada nenek moyang yang telah pergi dari dunia. Orang dengan Agama Marau percaya bahwa setelah kematian datang, mereka akan pergi ke sebuah tempat yang sangat indah bernama Prai Marapu. Tempat yang konon sangat indah itu bisa disamakan seperti surga di Agama seperti Islam dan Kristen.
Kompleksitas Agama Marapu yang telah ada sejak ratusan tahun lalu bisa dilihat dari banyaknya upacara keagamaan. Hal-hal yang berkaitan dengan daur hidup seperti kematian, kelahiran, dan pernikahan akan diwujudkan menjadi pesta besar. Selain masalah tradisi, orang dengan Agama ini juga mengenal beberapa makhluk gaib, kekuatan gaib, dan mengeramatkan beberapa benda.
d.      Ugamo Malim
Ugamo Malim adalah Agama asli dari Suku Batak di kawasan Toba. Jauh sebelum Islam, Kristen, dan Katolik dipeluk oleh masyarakat setempat. Agama ini memiliki kesamaan dengan Agama Kuno Yahudi yang terletak jauh berseberang samudera. Saat ini, Ugamo Malim telah dipeluk oleh 35 generasi suku Batak. Artinya, Agama ini telah ada sejak 800 tahun yang lalu.
Dalam Ugamo Malim dikenal Tuhan YME dengan julukan Debata Mula Jadi Na Bolon. Tuhan dalam kepercayaan Ugamo Malim menciptakan alam semesta, bumi, manusia dan segala hal yang ada di sekitarnya.
e.      Kaharingan
Kaharingan adalah salah satu Agama asli Indonesia yang berasal dari Kalimantan. Suku Dayak banyak menganut Agama ini sejak lama sebelum Agama-agama besar diakui oleh pemerintah. Kaharingan percaya akan adanya entitas yang sering disebut dengan Ranying Hatalla. Entitas itu bisa disamakan dengan Tuan Yang Maha Esa.
Agama Kaharingan dimasukkan ke dalam Agama Hindu pada tahun 1980. Kemiripan tradisi dan lelakunya dirasa mirip oleh pemerintah. Meski masuk dalam cakupan Agama Hindu, Kaharingan masih memiliki tradisi asli yang tak bisa disamakan dengan Agama lainnya. Misal mereka punya tempat ibadah yang dinamai dengan Balai Basarah.

b.      Jelaskanlah berdasarkan bukti historis, bahwa agama tersebut di atas adalah Hindu Indonesia, Buddha Indonesia, dan Islam Indonesia.
a.      Hindu Indonesia
Kebudayaan dan agama Hindu tiba di Indonesia pada abad pertama Masehi, bersamaan waktunya dengan kedatangan agama Buddha, yang kemudian menghasilkan sejumlah kerajaan Hindu-Buddha seperti Kutai, Mataram dan Majapahit. Candi Prambanan adalah kuil Hindu yang dibangun semasa kerajaan Majapahit, semasa dinasti Sanjaya. Kerajaan ini hidup hingga abad ke 16 M, ketika kerajaan Islam mulai berkembang. Periode ini, dikenal sebagai periode Hindu-Indonesia, bertahan selama 16 abad penuh.
Hindu di Indonesia berbeda dengan Hindu lainnya di dunia. Sebagai contoh, Hindu di Indonesia, secara formal ditunjuk sebagai agama Hindu Dharma, tidak pernah menerapkan sistem kasta. Contoh lain adalah, bahwa Epos keagamaan Hindu Mahabharata (Pertempuran Besar Keturunan Bharata) dan Ramayana (Perjalanan Rama), menjadi tradisi penting para pengikut Hindu di Indonesia, yang dinyatakan dalam bentuk wayang dan pertunjukan tari. Aliran Hindu juga telah terbentuk dengan cara yang berbeda di daerah pulau Jawa, yang jadilah lebih dipengaruhi oleh versi Islam mereka sendiri, yang dikenal sebagai Islam Abangan atau Islam Kejawen.
b.      Agama Budha Indonesia
Agama Buddha di Indonesia bukan hanya mengimpor rupang Buddha, tapi juga impor aliran. Theravada impor dari Thailand dan Myanmar, Mahayana (Tiongkok-Taiwan), Vajrayana (Tibet-Nepal), Tzu Chi (Taiwan), Plum Village (Perancis-Vietnam), Chan (Taiwan), hingga aliran-aliran yang ajarannya berbeda dari aliran mainstream seperti Nichiren (Jepang), Maitreya (Taiwan), dan yang terbaru Dhammakaya (Thailand).
Indonesia beda dengan Amerika atau negara Barat lainnya yang tidak punya sejarah agama Buddha di masa lalu, sehingga mereka harus mengimpor agama Buddha dari Asia. Sedangkan agama Buddha Indonesia punya sejarah yang sangat panjang dan pernah punya segalanya.
Agama Buddha pernah berjaya di Nusantara pada masa Sriwijaya dan Majapahit. Dan kita selalu membanggakannya. Kita selalu membanggakannya, tapi tak pernah mau meneruskannya. Bukannya meneruskan agama Buddha Nusantara yang sudah terbukti pernah berjaya, kita justru ramai-ramai impor agama Buddha dari negara lain yang belum tentu cocok dengan karakter orang Indonesia.
Agama Buddha Nusantara yang dulu pernah berkembang sangat kental akan nilai seni dan budaya. Ini bisa dilihat dari beragam artefak peninggalannya, mulai dari candi, rupang, pahat, arsitektur, tata kota, kidung, hingga sastra. Bahkan semboyan resmi negara kita, Bhinneka Tunggal Ika, diambil dari buku Sutasoma karya pujangga Buddhis besar kala itu, Mpu Tantular. Bahkan sistem etika, tata sosial dan budaya bangsa kita yang saat ini berlaku pun masih sangat dominan dipengaruhi budaya Hindu-Buddha.
c.       Islam Indonesia atau Islam Nusantara
Islam Nusantara atau model Islam Indonesia adalah suatu wujud empiris Islam yang dikembangkan di Nusantara setidaknya sejak abad ke-16, sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, interpretasi, dan vernakularisasi terhadap ajaran dan nilai-nilai Islam yang universal, yang sesuai dengan realitas sosio-kultural Indonesia. Istilah ini secara perdana resmi diperkenalkan dan digalakkan oleh organisasi Islam Nahdlatul Ulama pada 2015, sebagai bentuk penafsiran alternatif masyarakat Islam global yang selama ini selalu didominasi perspektif Arab dan Timur Tengah.
Islam Nusantara didefinisikan sebagai penafsiran Islam yang mempertimbangkan budaya dan adat istiadat lokal di Indonesia dalam merumuskan fikihnya Pada Juni 2015, Presiden Joko Widodo telah secara terbuka memberikan dukungan kepada Islam Nusantara, yang merupakan bentuk Islam yang moderat dan dianggap cocok dengan nilai budaya Indonesia
Konsep Islam Nusantara sebenarnya ialah mensinergikan ajaran Islam dengan adat istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Indonesia. Menurut Said Aqil, Islam di Indonesia tidak harus seperti Islam di Arab atau Timur  Tengah, yang menerapkan penggunaan gamis ataupun cadar. Islam Nusantara, tegasnya, adalah Islam yang khas ala Indonesia.

No comments:

Post a Comment